Mahasiswa tingkat akhir? Ya, penulis salah satunya yang
memiliki cerita dimana setiap mahasiswa akan merasakan detik-detik terakhir di
kampus tercinta. Kesibukan yang berlipat ganda, bertahan pada satu titik fokus,
dan terkurasnya uang jajan, terutama bagi anak kos. Kita telah mengetahui
bagaimana kehidupan anak kosan. Mereka selalu mengirit uang jajan untuk
keperluan kuliah serta mencari kerja sambilan agar segala kebutuhan terpenuhi.
Bahkan rela menahan selera asal tanggung jawab di kampus selesai.
Menjadi mahasiswa tingkat akhir itu ada suka-dukanya.
Sukanya ketika kita sudah menyelesaikan hampir seluruh SKS dan fokus pada TA
yang menghadang, dukanya ya kesulitan dalam menemui dosen pembimbing dan mendapatkan
banyak coretan pada kertas skirpsi. Mahasiswa tingkat akhir itu ibarat orang
yang sedang meregang nyawa. Di sinilah ia benar-benar merasakan sakit yang luar
biasa. Pada tahap akhir inilah, mahasiswa harus menyampaikan ilmu yang ia dapatkan
selama masa perkuliahan.
Beberapa hal yang
dirasakan mahasiswa tingkat akhir. Pertama, Baper Skripsi. Syarat untuk lulusan
adalah wajib menyelesaikan skripsi. Dalam mengerjakan skripsi, tak jarang
bergelimang dengan rasa bingung yang bikin pusing, seperti pemilihan judul.
Sudah menemukan judul yang pas, tapi tidak sesuai dengan isinya, terpaksa
rombak lagi, lagi dan lagi.
Kedua,
Uang jajan terkuras untuk ngeprint. Semakin
tinggi semester yang kamu lalui, otomatis makin tinggi pula biaya yang
terkuras. Awal perkuliahan, mahasiswa hanya ngeprint beberapa lembar kertas
untuk tugas harian. Berbeda dengan tingkat ahkir, si mahasiswa akan ngeprint
puluhan bahkan ratusan lembar kertas skripsi.
Ketiga,
Di php dosen pembimbing. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Janji
dengan dosen pembimbing jam 8, diundur jam 12, dan akhirnya bimbingan ditunda
besok. Padahal sudah sampai kampus. Nyesek kan? Ya pastinya. Tapi harus tetap
sabar.
Keempat,
Ketemu mata kuliah yang sama. Memasuki tingkat akhir, ternyata masih ada mata
kuliah yang harus kita selesaikan. Tidak hanya fokus pada skripsi saja, namun
fokus kita juga terbagi pada tugas harian dan ujian di mata kuliah tersebut.
Kelima,
Lelah disiksa revisi. Dapat banyak
coretan di kertas skripsi. Coretan cantik dari dosen pembimbing. Mau gak mau,
perbaiki lagi, print lagi. Jika masih terdapat kesalahan, pasti akan dicoret
lagi. Namun jangan dijadikan sebagai beban. Jadikan semua itu sebuah motivasi
untuk pondasi di masa depan.
Begitulah
beberapa hal pahit yang dirasakan oleh mahasiswa tingkat akhir. Untuk masuk ke
sebuah kampus, tentu ada persyaratan yang harus dipenuhi. Begitu pun
sebaliknya, untuk lulus dari kampus tersebut, si mahasiswa harus menyelesaikan
semua tanggung jawabnya agar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.
Menjalankan
semua persoalan dengan sabar dan penuh keikhlasan, maka Allah SWT pasti memberikan
hasil yang baik sesuai dengan usaha yang dilakukan. Untuk bisa bertahan hidup
tentunya membutuhkan kerja keras. Tak jauh bedanya dengan masa depan. Agar masa
depan yang diimpikan terwujud, maka manusia harus mempunyai komitmen, bekerja
keras dan bertanggung jawab.

Komentar
Posting Komentar