Ayah Sang Penopang Hidup



              Ditengah heningnya malam, aku terbayang sosok lelaki paruh baya nan gagah dan tangguh. Ayah. Ia adalah lelaki yang sangat aku banggakan kepada semua orang. Sosok ayah idaman yang mengerti akan anak-anaknya. Disaat sepi merasuki diri, ayah selalu ada untuk menemaniku. Sebuah keakraban yang mendatangkan makna tersendiri.

            Dua tahun berlalu, aku berlayar di tanah perantauan. Sebuah pulau yang membentang, antara Ibu Kota dan Sumatera Barat. Jarak dan waktu memisahkan kita, Ayah. Apalah dayaku hanya bisa menahan kerinduan yang amat dalam ini terhadapmu. Seringkali isak-tangis dan lamunan menyertai bayanganmu. Meski disetiap liburan aku pulang, tapi waktu libur yang sebentar itu tidak cukup untukku mengukir kenangan indah bersama keluarga.
            Dikala aku terjatuh, ia membangunkanku. Aku lelah, ia menyemangatiku. Aku menyerah, ia selalu hadir untuk memberikan motivasi. “Bangkitlah, Nak. Inilah yang dinamakan hidup. Hidup butuh perjuangan. Berjuanglah untuk mendapatkan yang kamu inginkan! Jangan hanya berpangku tangan saja, tapi bangkit dan gapailah salah satu bintang nan indah itu! Disini ayah akan selalu ada untukmu, sayang.
Dulu saat baru melihat bumi, ialah sosok yang mengumandangkan azan di telingaku. Ialah imam yang baik bagi keluargaku serta teladan bagi anak-anaknya. Tangannya memang tak selembut kapas, tapi aku yakin ia menimangku selembut hati seorang Ibu. Semenjak Ibu tiada, ia menjalankan dua peran sekaligus. Menghadapi keras sikap anak-anaknya dengan kelembutan.
Aku mengingat kembali kejadian semasa balita. Ketika keegoisan menguasai diri, kau mencoba untuk meredakannya. Aku meminta banyak hal padamu, berharap semua keinginanku terkabulkan. Tetapi disitu, kau tidak memberi barang yang aku pinta. Ada hal yang lebih berarti kau berikan padaku, yaitu pelajaran. Sebuah pelajaran tentang menyikapi kehidupan.
            “Tidak semua yang kamu inginkan bisa terwujud, Nak. Ayah bukan tidak mampu memberikan yang kamu pinta. Tapi ayah akan mengajarkanmu tentang hidup sederhana. Hidup dengan hal yang menakjubkan, yaitu kasih sayang dan keharmonisan dalam keluarga kita. Memang pada umumnya, manusia membuat dirinya bahagia dengan harta berlimpah yang dimilikinya, membeli barang-barang yang tak sepatutnya. Namun tidak dengan kita, Nak.”
            Ayahku sosok superhero sesungguhnya. Melawan segala kejahatan demi menjaga kelurga tercinta. Mencari nafkah dengan jerih payah. Tak mengenal kata lelah maupun kata menyerah. Lembut kasih sayang yang ia berikan, takkan pernah habis ditelan waktu dan selalu membekas diruang kalbu.
            Ia menjadi salah satu alasanku menginjakkan kaki di tanah rantau ini. Dengan penuh harap, semoga kasih sayang yang ia berikan selama ini bisa terbalaskan. Tanpamu, aku bukanlah siapa-siapa. Dan dengan kasih sayangmu-lah aku bisa belajar dan mengerti arti kehidupan.
            Ayah, kau bagai sinar yang mampu menerangi kala redupku. Aku mencintaimu layaknya udara murni. Meski doa ku tak terlihat, tapi aku selalu ada untukmu. Terima kasih atas cinta dan kasih yang tak terhenti.

Komentar

  1. feel warm after read this hehe.. dari hati beud ya nulisnya. keren!! coba atuh nulis tentang ibu yang yosi inginin atau dr hati gitu, keknya bagus ehehhe

    BalasHapus

Posting Komentar