Kisah Hidup Anak Perantauan




                                                               


             Dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang terus berdiam di rumahnya adalah orang yang sangat merugi. Namun memutuskan merantau untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan bukanlah perkara sederhana. Di perantauan, beribu tantangan telah menanti untuk kita hadapi. Tapi dengan keputusan itulah kita bisa merubah hidup dan lebih mengerti tentang arti kehidupan.
            Rumah dan kampung halaman adalah tempat kita tumbuh dan berkembang. Setiap sudut rumah dan sudut kota menyimpan banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan. Enggan rasanya untuk meninggalkan keluarga, teman, dan segala romansa bersama kota tercinta. Selain itu, dengan didampingi kedua orang tua, membuat kita tak pernah merasa kekurangan. Segala kebutuhan dan berbagai fasilitas sudah tersediakan.
            Menjalani hidup yang itu-itu saja dan tidak pergi kemana-mana, hanya berdiam diri di rumah justru akan menjadikan kita mentok. Tanpa sadar, kita pun melewati berbagai kesempatan yang tak akan kita ketahui kapan kesempatan itu akan datang lagi.
            Rumah dan segala yang ditawarkan justru ibarat racun. Terus-menerus mengakrabinya sama dengan halnya bunuh diri. Saat mulai merasa nyaman dengan apa yang kita miliki, segeralah beranjak meninggalkan zona nyaman. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan pergi merantau. Di tempat baru nanti, kita akan “dipaksa” untuk belajar hal-hal baru. Semakin berkembang dan meningkatkan kualitas sebagai seorang individu.
            Pergi merantau bukanlah pilihan yang luar biasa karena di luar sana juga banyak orang melakukan hal yang sama. Misalnya seseorang yang merantau dari Padang ke Jakarta demi bisa kuliah di kampus impiannya. Memang belum tentu tanah rantau itu akan nyaman bagi kita. Bukan tak mungkin setiap Minggu kita begitu rindu ingin pulang ke rumah, teringat hangat dekapan ibu. Namun kita tak boleh menyerah begitu saja.
           Ketika merantau, keadaan memang mengharuskan kita untuk hidup sendiri. Jauh dari keluarga, teman-teman dekat justru menjadikan kita terlatih untuk hidup mandiri. Perkara kebersihan kamar kos bisa kita tangani. Kebutuhan makan 3 kali sehari bisa kita cukupi.  Selain itu, kesendirian kian melatih kita mawas diri. Setiap keputusan dan sikap yang kita ambil agar lebih dipertimbangkan dulu sebelum melakukannya.
            Ketika tinggal dengan orang tua, mungkin kita tak pernah pusing memikirkan kebutuhan, seperti makan. Bagaimanapun, orang tua tak akan keberatan  menyediakan makan untuk anak-anaknya setiap hari. Saat lapar menghampiri, kita pun tak perlu repot mengkalkulasi isi dompet dan menimbang-nimbang makan apa dan dimana?
            Sementara itu, kita pun akan merasakan bahwa tempat perantauan itu terlalu kejam. Apalagi saat harus mengakrabi gaji yang terbilang kecil atau uang kiriman orang tua pas-pasan. Betapa kita harus menahan nafsu jajan atau keinginan untuk berbelanja. Segala kebutuhan harus diminimalkan demi bisa bertahan hingga akhir bulan.
            Tapi, pengalaman setidaknya telah mengajarkan bahwa hidup hemat adalah sebuah keharusan. Paham rasanya hidup pas-pasan, kita pun tak lagi lupa diri saat sedang banyak uang. Kita akan mengerti betapa pentingnya menabung dan membagi penghasilan jadi beberapa bagian. Kemudian kita pun akan semakin bijak dalam mengatur masalah keuangan sendiri.  

Komentar

  1. Wiihhh....., sepertinya ini berdasarkan pengalaman pribadi, ya?? Hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe bisa dibilang begitu. Semoga bermanfaat ya

      Hapus

Posting Komentar