Rumah Puisi Taufik Ismail




           


            Bangunan rumah puisi berdinding kaca, yang dipenuhi dengan bunga warna-warni disekelilingnya, dan juga pemandangan perbukitan hijau melingkupi, pastinya membuat orang-orang tertarik untuk mengunjungi rumah puisi ini dengan keindahan yang dimiliki. Selain bisa menikmati keindahan di sekeliling rumah puisi, disitu kita juga bisa menambah wawasan mengenai sastra.

            Dengan Puisi, Aku
            Dengan puisi aku bernyanyi, sampai senja umurku nanti
            Dengan puisi aku bercinta, berbatas cakrawala
            Dengan puisi aku mengenang, keabadian yang akan datang
            Dengan puisi aku menangis, jarum waktu bila kejam mengiris
            Dengan puisi aku mengutuk, nafas zaman yang busuk
            Dengan puisi aku berdoa, perkenankanlah kiranya
            (1965, Taufiq Ismail)

            Demikian untaian puisi yang menyambut para pengunjung di gerbang Rumah Puisi Taufiq Ismail di Padang Panjang, Sumatera Barat. Kutipan puisi lain karya sastrawan Indonesia dan seluruh dunia terpampang di sepanjang pintu masuk area tersebut, membangkitkan naluri kesastraan siapa saja yang datang.
            Rumah puisi ini memiliki 2 ruangan, yaitu ruang diskusi yang terletak dibagian bawah dan perpustakaan atau ruang baca dibagian atas. Didalam rumah puisi terdapat berbagai macam spanduk yang berisi data-data tentang sastra anak bangsa Indonesia, contohnya seperti jumlah minat baca anak bangsa pertahun, tertata rapi dispanduk itu.
            Sementara di perpustakaannya, berjejer rak-rak buku berukuran besar yang menyimpan sekitar tujuh ribu koleksi buku Bapak Taufiq Ismail. Sebagian besar dari buku tersebut adalah buku sastra, dan selebihnya buku agama, social, politik dari berbagai belahan dunia, yang sudah ia kuasai semua isi buku itu.
            Rumah puisi juga kerap menerima kedatangan rombongan guru dan para siswa yang ingin mengikuti pelatihan membaca dan menulis, termasuk puisi.
            Di ruang diskusi Rumah Puisi, para pengunjung akan mengetahui fakta mengejutkan tentang frekuensi membaca buku sastra anak SMA diantara 13 negara sejak tahun 1986-2008 (hasil penelitian Taufiq Ismail).
            Siswa SMA di Thailand Selatan, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam wajib membaca 5 hingga 7 buku dalam rentang waktu 1 hingga 3 tahun. Di Rusia, Kanada, Swiss dan Jerman Barat siswa SMA wajib membaca 12 hingga 22 buku dalam kurun waktu yang sama. Siswa di SMA Perancis, Belanda dan Amerika Selatan bahkan diwajibkan membaca minimal 30 buku dalam waktu 2 atau 3 tahun. Sementara siswa SMA di Indonesia hanya pernah diwajibkan membaca 25 buku, dan itu pun pada tahun 1929-1942, saat sekolah menengah namanya masih AMS Hindia Belanda.
            Menurut hasil penelitian, antara tahun 1943 hingga 2008, siswa SMA Indonesia hanya membaca NOL buku. Bapak Taufiq mengatakan bahwa “Indonesia sangat buruk dalam menanamkan kecintaan membaca dan menulis kepada anak-anak bangsa, tidak menjadikannya sebagai kewajiban dalam kurikulum Bahasa Indonesia.” Hal itu sangatlah mengecewakan.
            Bapak Taufik dan para sastrawan lainnya pernah berusaha membuat perubahan dengan mendatangi Kementerian Pendidikan yang waktu itu dipimpin oleh Wardiman Djojonegoro. Menurutnya, Wardiman adalah menteri pendidikan pertama yang membuka pintu dan mempersilahkan para sastrawan terlibat dalam pembuatan kurikulum Bahasa Indonesia.
            Taufiq Ismail dan para sastrawan akhirnya diberi kesempatan untuk bertemu para guru Bahasa Indonesia dan memberikan cara pandang baru dalam mengajarkan tentang sastra. Taufiq mengatakan “mengubah cara pandang suatu bangsa terhadap sastra tidak mudah, terlebih membuat mereka serta-merta mencintai buku.” Baginya, sekarang yang terpenting adalah menumbuhkan kesadaran generasi penerus bahwa membaca bisa mencerahkan jiwa.

Komentar