Toko Beras yang Semakin Sepi




Berbagai macam aktivitas dilakukan orang banyak di ruang lingkup ini. Wajah lelah, ceria, sedih terlihat. Semua bercampur-aduk. Rutinitas yang tiap hari mereka lakukan demi mencari sesuap nasi. Demi menghidupi keluarga tercinta. Membiaya sekolah atau kuliah anaknya. Begitulah perjuangan orang tua yang mempunyai profesi sebagai seorang pedagang.
Hiruk pikuk keramaian di pasar sudah terasa tidak asing lagi bagi masyarakat. Namanya juga pasar, pasar pasti ramai. Begitu juga dengan pasar tradisonal satu ini yakni pasar Minggu. Pasar minggu terletak di daerah Jakarta Selatan. Pasar ini dibangun sejak tahun 1982. Terbilang tua memang.
Dulu, pada tahun 1982  pasar ini berbentuk pasar panggung dan tokonya terbuat dari kayu. Tetapi sekarang kondisi bangunannya sudah tertata rapi dan dengan letaknya yang sangat stategis. Terlihat begitu banyak deretan ruko-ruko dalam pasar, baik itu ruko pedang milik sendiri maupun disewakan. Ruko tersebut tersusun rapi di pingggiran jalan tempat biasa pembeli berlalu lalang.
Pembeli yang setiap harinya berkunjung dan memadati pasar ini. Begitu juga pedagang yang tak henti memamerkan barang dagangannya kepada si pembeli. Di pasar ini, para pedagang menjual berbagai macam makanan, mulai dari bahan mentah hingga matang yang sudah siap saji. Banyaknya sayuran dan buahan segar yang dijual dengan harga miring. Berbagai jenis mode pakaian untuk anak kecil hingga orang tua juga bisa kita temukan di pasar ini.
Jika masuk ke dalam gedung, dapat ditemukan toko-toko yang menjual kebutuhan pangan. Dengan lokasi yang lumayan strategis, penjual beras dekat dengan penjual telur dan didepannya ada toko sembako.
Beras pasti menjadi incaran utama warga khususnya ibu rumah tangga jika pergi ke pasar. Begitu juga dengan penjual beras di Pasar Minggu, salah satunya Ida. Perempuan berusia 27 tahun ini sudah berjualan sejak tahun 2008, bukan rentang waktu yang lama jika dibandingkan dengan umur pasar. Tapi ia sudah merasakan berbagai perbedaan yang terlihat jelas di sini.
“Saya berjualan sejak 2008. Tetapi dahulu toko ini orang tua yang pegang, saya saat kuliah baru pegang.” Ujar Ida.
Di belakangnya terlihat satu-satunya pegawai yang mendampinginya. Semenjak kuliah hingga saat ini, ia hanya mempunyai satu pegawai, yang ia rasa memang cukup. Toko yang ia beli sendiri ini tidak ada pergantian atau renovasi semenjak ia pertama kali membelinya.
Omset yang ia dapatkan tidak menentu, tetapi semakin hari penurunan pendapatan semakin terasa jelas.
“Omset tidak tentu, tergantung situasi pasar. Jika hari libur sepi, jika tanggal muda saat pertama gajian ramai. Bisa sekitar lima juta sehari” ujarnya, diselingi dengan pembeli yang membeli beras.
Harga beras yang Ida jual  berkisar antara Rp 7500-Rp 12500. Banyak penjual yang memilih beras dengan harga murah, tetapi ada juga beras dengan kualitas bagus. Semuanya tergantung kepada tingkat sosial pembeli.
Walaupun terbilang muda dan belum lama berjualan, Ida sudah merasakan perbedaan saat pergantian pemerintahan. Jika adanya subsidi pemerintah, dengan tidak ada subsidi, tentu berbeda. Namun, semakin kesini pasar memang semakin sepi. Terlihat jelas dengan hanya adanya satu pengunjung yang membeli saat Ida menjelaskan bagaimana berjualan di pasar ini.
Jika suasana, dahulu dan sekarang lebih aman sekarang. Karena dulu masih banyak preman, jika malam hari banyak yang kadang diisengin, jika sekarang sudah tidak ada.” jelasnya.
Sekarang, Pasar Minggu memang lebih terawat dan lebih aman dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tetapi semakin berkembangnya zaman, semakin sepi pengunjung yang membeli bahan pangan disini. Belum lagi ketika memasuki bulan Ramadhan, toko akan terasa sangat sepi dan tidak banyak untung yang didapat. Mungkin, hanya pada awal bulan ketika ibu rumah tangga belanja bulanan, dan pada weekend saja akan terasa sedikit ramai. Jika hari biasa, saking sepinya, tertidur pulas di toko pun bisa dilakukan.

Komentar